Abu Bakar Sang Ahli Strategi

27 Shafar tahun 14 kenabian.

Sebuah sosok meninggalkan rumah dalam keadaan sembunyi-sembunyi di bawah naungan malam. Ia bergegas menuju sebuah rumah lain untuk menjemput sosok lain yang hendak menjalankan sebuah rencana bersamanya.

Sang pemilik rumah adalah Abu Bakar As Shiddiq sedangkan tamunya tak lain dari Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam.

Malam itu dan saat itu juga mereka bergegas meninggalkan kota Makkah demi menyusul umat Islam lain yang telah berangkat ke Madinah. Hal tersebut bukan perkara mudah mengingat pengawasan ketat yang diberlakukan oleh tokoh kaum Quraisy yang diketuai Abu Jahal bin Hisyam. Para tokoh Quraisy telah mengetahui dengan jelas bahwa umat Islam menjadikan Yastrib sebagai wilayah suaka dan hanya tinggal menunggu waktu hingga rasulullah menyusul mereka.

Rasulullah dan Abu Bakar pun memahami hal yang sama. Menuju Yastrib dengan berjalan menuju utara merupakan tindakan beresiko tinggi hingga mereka pun memilih untuk menempuh jalur selatan kemudian berbelok ke barat menuju Laut Merah. Dari situlah mereka berencana untuk menuju Madinah melalui wilayah pesisir namun khusus untuk malam itu dan dua malam setelahnya mereka berencana untuk singgah di tempat lain yaitu Gua Tsur.

Berdiam diri di dalam gua selama tiga hari memang menawarkan keamanan sementara namun biar bagaimanapun mereka harus segera melanjutkan perjalanan menuju Yastrib; dan kali ini tindakan tersebut akan menjadi semakin sulit karena kaum Quraisy yang merasa kecolongan sudah pasti akan mengirim patroli ke berbagai tempat.

Disinilah Abu Bakar memainkan peran penting sebagai sahabat dan orang kepercayaan rasulullah. Sebelum pergi beliau telah menginstruksikan beberapa orang untuk memainkan peran dalam keberhasilan rencana itu.

Putranya yang bernama Abdullah ditugaskan untuk mengumpulkan informasi yang beredar di tengah penduduk Makkah dan melaporkannya pada malam hari. Abdullah berangkat di tengah gelap malam dan kembali ke kota sebelum terbit fajar.

Selain putranya, Abu Bakar juga menginstruksikan salah seorang budaknya yang bernama Amir bin Furaihah untuk mengembalakan kambing perah dekat gua dan menyiapkan susu untuk konsumsi. Begitu pekatnya malam tiba, Rasulullah dan Abu Bakar keluar dari gua untuk meminum susu tersebut. Setelah itu Amir bin Furaihah pun menggiring kambing-kambingnya menjauhi gua seraya menghapus jejak-jejak yang tersisa untuk menghilangkan kecurigaan patroli Quraisy.

Jangan lupakan pula jasa Abdullah bin Uraiqith al-Laitsi, seorang pemandu jalan senior yang saat itu belum masuk Islam. Meskipun belum menerima dakwah Islam akan tetapi Rasulullah dan Abu Bakar memeprcayai beliau karena kemahirannya menyusuri jalan-jalan yang nyaris tidak diketahui oleh orang banyak. Dan memang bersama sosok satu inilah perjalanan hingga Yastrib ditempuh.

Selain mampu memilih orang-orang yang tepat, Abu Bakar juga pandai menjalankan siasat hingga banyak orang yang berpapasan dengan rombongan itu tak menyadari keberadaan rasulullah. Abu Bakar terbiasa membonceng rasulullah dan menjelaskan pada orang yang berpapasan dengan mereka bahwa ia (rasulullah) adalah seorang penunjuk jalan. Orang akan mengira bahwa beliau adalah seorang guide padahal yang dimaksud oleh Abu Bakar adalah penunjuk kepada jalan yang lurus.

Inilah salah seorang sahabat yang dikarunia kecerdasan dan kebijaksanaan oleh Allah. Tak heran apabila para sahabat digelari Allah sebagai umat terbaik. Mereka tidak hanya salih dan rajin beribadah akan tetapi juga telah menyumbangkan harta, tenaga, dan nyawa demi kecintaan pada rasulullah. Mereka bukan hanya kaum yang berusaha untuk memperbaiki diri dan membersihkan dosa. Mereka manusia biasa dan bukan malaikat yang terbebas dari dosa. Para sahabat adalah manusia-manusia pilihan yang dikarunia kemampuan besar dalam urusan duniawi seperti strategi, diplomasi, atau kesusteraan.

Ketika kita coba merenungi prestasi para sahabat rasul dalam satu aspek saja, yaitu aspek duniawi, maka akan kita dapati bahwa mereka sama agungnya dengan para pemimpin besar yang telah menorehkan tinta emas dalam sejarah manusia. Akan tetapi, para sahabat rasul adalah manusia bersahaja yang tidak suka menonjolkan diri hingga seakan mereka hanya dikenal dalam urusan agama. Kenyataannya mereka adalah manusia yang mengungguli generasi-generasi lain dalam urusan duniawi maupun ukhrawi.

Wallahu a’lam bishawab.

#kredit foto: Ian Bekcley dari Pexels

Bersahabat di Instagram

Bismillah…

Assalamualaikum teman-teman, semoga kalian semua dalam keadaan sehat dan bahagia.

Dalam postingan kali ini saya ingin mengajak kalian untuk meluaskan pertemanan ke instagram. Saling follow (tapi jangan follow unfollow ya 😇)

Kalian bisa mampir di akun saya melalui link berikut.

https://instagram.com/ryan.quenda?igshid=yxiesf8irlde

Terima kasih ya teman-teman, dan ditunggu kehadiran kalian😇

Kangen

Bismillah

Waktu menunjukkan pukul 5 sore waktu Indonesia barat saat saya memutuskan untuk menyerah.

“Toh tulisan hari ini sudah kuselesaikan” saya berujar dalam hati seraya menutup tafsir surat Al Fatihah yang saya dapat di Makkah beberapa tahun lalu.

Sampulnya yang berwarna hitam nampak serupa dengan seluruh gambaran di hadapan. Lemari, sofa, pintu mendadak berubah warna jadi hitam.

Hanya ubin putih yang dingin yang sama sekali tidak ikut menjadi hitam.

Saya pejamkan mata dan merebahkan badan, sekedar melepas lelah setelah work (from home).

Entah mengapa sebelum berlayar lebih jauh ke samudra mimpi, saya teringat teman-teman lama saya; rasa rindu berdentum keras sepersekian detik sebelum tubuh benar-benar dikuasai oleh tidur.

Esok paginya…

Seorang teman seperjuangan di ma’had dan di Makkah menulis postingan tentang salah satu buku yang saya tulis. Teman saya yang satu lagi mendadak nimbrung di kolom komentar.

Apa yang saya alami pagi ini, walau sekedar berjumpa dengan orang-orang berharga yang lama berpisah, merupakan sebuah nikmat yang besar.

Sebuah kehangatan yang membesarkan jiwa.

Memiliki teman-teman dari kalangan orang shalih memang menyenangkan.

Semoga Allah menjaga mereka, saya, dan juga anda.

Ide Baru

Bismillah

Tak terasa delapan bulan telah berlalu semenjak terakhir kalinya saya membimbing jamaah di tanah suci.

Sama seperti teman-teman yang mungkin jenuh bekerja dalam suasana serba terbatas, saya juga menginkan keadaan kembali normal, wabah lenyap, dan hari esok lebih baik dari pahitnya kemarin.

Akan tetapi, saya tidak ingin mengeluh, curhat, atau mengutuk siapapun dalam keadaan seperti ini. Saya justru menyadari bahwa Allah tengah memberi kita kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa; itulah kenapa kita tak perlu berlarut dalam kesedihan. Berenang dalam samudra kesedihan tak akan membawamu pada happy ending.

Seorang rekan penggiat bisnis haji umrah pernah berkata “dulu orang bilang bisnis ini (haji-umrah) tak akan berhenti selama Ka’bah masih ada.”

Ternyata Allah Sang Pemilik Ka”bah mengajarkan kita untuk tidak sesumbar dalam segala hal.

Tidak enak memang hanya berada di rumah dan wilayah-wilayah yang dekat. Hati ini rasanya sudah rindu untuk duduk di bangku pesawat dan berdoa sebelum kendaraan besar lepas landas; menjadikan bangunan-bangunan besar tampak sangat kecil. Akan tetapi sekali lagi kita jangan tenggelam dalam keluhan. Pasti ada sisi positif dari semua ini, hanya saja kiya belim menyadarinya.

Bagi saya ide positif itu muncul dalam banyak hal. Yup, banyak hal, bukan cuma satu. Dan saya pun terheran-heran mengapa ide-ide tersebut tak muncul saat kondisi normal? Jawabnya simple, wallahu a’lam bishawwab. Allah Maha Tahu sedangkan kita manusia sangat terbatas.

Menulis lagi

Bismillah…

Alhamdulillah, setelah lama tidak aktif akhirnya saya kembali mendapat kesempatan untuk bersua dengan teman-teman penulis.

Mudah-mudahan anda semua dalam keadaan baik dan positif serta tidak menyerah dalam menanti berlalunya pandemi.

اَلْجَمِيْلُ (Maha Indah)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


◇Salah satu fitrah manusia adalah menyukai keindahan hingga mereka pun berupaya keras untuk mendapatkan hal-hal yang mereka pandang indah. Adalah hal yang wajar bila manusia berlomba untuk mendapatkan cinta seorang wanita cantik atau pria tampan. Juga merupakan perbuatan lumrah bila manusia menjadi demikian bernafsu untuk memiliki kendaraan yang keren, rumah yang mewah, atau harta yang berlimpah. Bukankah Allah telah menjelaskan fenomena ini,

, زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ
“Dijadikan indah pada
pandangan (manusia) kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran:14)

Maka tak perlu heran dan tak perlu mencela bila mendapati seorang yang kita kenal menyukai sesuatu yang indah. Yang perlu dipertanyakan adalah mereka yang sengaja hidup kumuh dan rusak padahal mereka mampu untuk mendapatkan yang lebih baik.



Definisi Kesombongan
Banyak orang yang salah mengartikan kesombongan. Mereka pikir menyukai sesuatu yang indah dan memilikinya merupakan suatu kesombongan. Sebagai konsekuensi orang-orang ini sering menghujat siapapun yang lebih baik keadaannya. Ironisnya para pencela ini juga berusaha keras untuk mendapatkan apa-apa yang mereka cela. Lalu benarkah menyukai keindahan merupakan kesombongan? silakan simak hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berikut ini

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قاَلَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga siapa saja yang dalam kalbunya ada (walaupun) seberat semut kecil dari kesombongan.” Maka seseorang mengatakan: ‘Bahwa ada seseorang suka bila baju dan sandalnya bagus.” Nabi menjawab: “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (Shahih, HR. Muslim)



◇Maka ketahuilah bahwa keindahan itu hal yang diizinkan oleh Allah; Yang Maha Indah baik Dzat, perbuatan, maupun apa-apa yang Ia ciptakan.

Sebaliknya, kesombongan adalah menolak kebenaran yang datang dari Allah dan rasul-Nya serta meremehkan orang lain. Dan kesombongan ini bisa menjangkiti siapapun; entah ia berpakaian indah atau lusuh. Entah ia good looking atau buruk rupa. Entah ia kaya atau miskin.

Mudah-mudahan Allah jadikan kita orang-orang yang diberi keindahan akhlak serta fisik sekaligus menjadi mereka yang beruntung di akhirat kelak,

وَلَقَّىٰهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا
“Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.” (QS. Al Insaan: 11)



■Penutup
Tak terasa 2 tahun lebih saya coba mempelajari asmaul husna kemudian merangkumnya ke dalam blog sederhana ini (dulunya website).

Berawal dari sebuah buku kecil yang saya beli di Museum Asmaul Husna Madinah saat menemani para jamaah, saya pun coba mempelajarinya baik dari sumber-sumber lain yang lebih lengkap maupin dari para ustadz yang alim. Tak terasa perjalanan menulis yang dimulai pada 22 Januari 2018 akhirnya berakhir hari ini, Senin 4 Ramadhan 1441 H / 27 April 2020.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi diri saya maupun para pembaca sekalian. Dan semoga Allah memberi kita berbagai nikmat di hari akhir nanti, sebagaimana firman-Nya,

وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُوا۟ جَنَّةً وَحَرِيرًا
“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera,” (QS. Al Insaan: 12)

Terima kasih pada para pembaca yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengikuti artikel-artikel saya.

Wallahu a’lam bishowwab.

الطيب (Maha Baik)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


□Kita sering mendengar nasihat untuk berbuat baik seperti: jadilah anak yang baik, jadilah suami yang baik, jadilah istri yang baik, makanlah yang baik, bertemanlah dengan orang baik, carilah nafkah dengan cara yang baik, dan lain sebagainya.

Apakah semua itu hanya sekedar klise? Bisa iya bisa enggak; tapi setidaknya seluruh ajakan pada kebaikan itu memiliki nilai tersendiri dalam Islam. Silakan simak hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu anhu berikut ini. Bahwa rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُواْ مِنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَٱعۡمَلُواْ صَٰلِحًاۖ إِنِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: { يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ } [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik dan Allah subhanahu wa ta’ala memerintah kaum mukminin dengan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan kepada para rasul.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Wahai para rasul, makanlah dari hal-hal yang baik dan lakukan yang baik, Aku mengetahui apa yang kalian lakukan,’ dan Dia berkata (yang artinya), ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari hal-hal yang baik yang Kami telah rezekikan pada kalian.’

Lalu beliau menyebutkan seseorang yang menempuh perjalanan panjang, kusut, berdebu, membentangkan tangannya ke langit, ‘Ya Rabb! Ya Rabb!’, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi gizi yang haram. Lantas bagaimana mau dikabulkan karena itu?”(Sahih, HR. Muslim)

□Setidaknya hadits tersebut mengingatkan pada kita bahwa segala sesuatu yang diperoleh dari cara yang tidak baik akan berimbas pada kasih sayang Allah. Ia yang rahmatnya demikian luas bahkan dapat mengabaikan mereka yang terbiasa hidup dengan hal-hal yang buruk dan culas.

Sebaliknya, membiasakan diri dengan hal-hal yang baik dan diridhoi oleh Allah akan menyebabkan ketntraman jiwa dan keberkahan dalam urusan dunia. Membiasakan diri dengan hal yang diridhoi Allah juga akan berakibat baik di akhir kehidupan kita in sya Allah, sebagaimana firman-Nya,

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. An Nahl: 32)

□Mudah-mudahan Allqh Ath Thoyyib menjadikan kita terbiasa hidup d3ngan cara yang baik. Makan, minum, berkata, berbuat, serta mencari nafkah dari jalan yang baik lagi halal. Dan semoga di akhirat kelak kita termasuk orang-orang yang disebutkan di dalam surat Az Zumar ayat 73,

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.”

Wallahu a’lam bishowwab.

Maha Malu (حَيِىٌّ)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


●Sifat malu merupakan salah satu fitrah manusia yang muncul dari rasa sungkan, tidak yakin, atau kurang keberanian. Pada satu sisi rasa malu membuat kita berpikir ulang untuk melakukan atau mengatakan sesuatu karena mempertimbangkan berbagai konsekuensinya. Di sisi lain, rasu malunpada tempat yang salah akan menghalangi pelakunya dari keberhasilan.

Rasa Malu Bagi Allah
Sesungguhnya Allah subhana wa ta’ala pun memiliki rasa malu; akan tetapi mali tersebut sama sekali tidak sama dengan apa yang menimpa para makhluk.

Ibnul Qayyim Al Jauziyah menjelaskan bahwa selain berbeda dengan malu yang ada pada manusia; sifat malu Allah senantiasa disertai kemuliaan, kebaikan, dan keagungan hingga Ia subhana wa ta’ala malu bila tidak mengabulkan doa para hamba yang telah mengangkat tangannya. Dan Ia subhana wa ta’ala juga malu untuk menyiksa seorang tua yang telah beruban dalam Islam.

Salman Al Farisi meriwayatkan sebuah hadits dari rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau berkata,

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا »

“Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta’ala adalah maha pemalu lagi maha mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa“HR Abu Dawud (no. 1488), at-Tirmidzi (no. 3556), Ibnu Majah (no. 3865) dan Ibnu Hibban (no. 876).

●Ibnul Qayyim Al Jauziyah menjelaskan bahwa selain berbeda dengan malu yang ada pada manusia; sifat malu Allah senantiasa disertai kemuliaan, kebaikan, dan keagungan hingga Ia subhana wa ta’ala malu bila tidak mengabulkan doa para hamba yang telah mengangkat tangannya. Dan Ia subhana wa ta’ala juga malu untuk menyiksa seorang tua yang telah beruban dalam Islam.

Beberapa hikmah yang dapat diperoleh dari sifat malu bagi Allah adalah keharusan bagi para hamba-Nya untuk memiliki sifat malu dalam hidup. Tidak melanggar perintah-Nya secara sengaja, tidak membongkar aib diri sendiri yang telah Allah tutupi, dan tidak mencari-cari aib orang lalu membeberkannya di hadapan umum. Bulankah rasulullah pernah bersabda,

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِي البَدْرِي
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ” رَوَاهُ البُخَارِي.

“Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 3484, 6120]


●Mudah-mudahan pelajaran tentang nama Allah yang satu ini dapat menjadikan kita orang-oran yang ihsan, yaitu mereka yang

أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, maka bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR Muslim)

Wallahu a’lam bishowwab.

Kitab “Syarhul qashiidatin nuuniyyah” (2/80).

https://muslim.or.id/5776-nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html

الْوَتْرَ (Maha Ganjil)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


■Salah satu prinsip dasar Islam adalah mengakui Allah sebagai satu-satunya pencipta dan pengatur alam semesta sekaligus satu-satunya yang boleh disembah. Konsekuensi dari hal ini adalah dilarangnya berbuat syirik seperti meminta rizki atau perlindungan pada berhala, dukun, atau kuburan meskipun pelakunya tetap mengakui Allah sebagai pencipta.

Konsekuensi lain dari tauhid juga muncul dalam keyakinan bahwa Allah hanya satu. Ia memang memiliki nama-nama mulia yang menunjukkan sifat dan keagungan-Nya, akan tetapi Allah tetaplah satu,

 لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا، مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا لَا يَحْفَظُهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَهُوَ وَتْرٌ يُحِبُّ الْوَتْرَ

“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Tidaklah ada yang menghapalnya kecuali ia akan masuk surga. Dan Ia (Allah) adalah al-Witr dan Ia menyukai yang ganjil” (Diriwayatkan oleh al-Bukhaariy no. 6410)


Makna Al Witr
Abul Abbas Al Qurthubi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ganjil adalah tauhid (keesaan), sehingga maknanya adalah sesungguhnya Allah Maha Esa dalam Dzat-Nya, kesempurnaan-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dia mencintai tauhid, yakni untuk ditauhidkan dan diyakini keesan-Nya…”


Witir dalam ibadah
Dalam hal keesaan Allah, witir diartikan sebagai satu-satunya. Adapun dalam ibadah, witir diartikan sebagai ganjil hingga akan kita dapati beberapa perbuatan nabi yang dikerjakan dalam bilangan ganjil. Diantaranya adalah:
• Shalat witir:
يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ ، أَوْتِرُوا ، فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

“Wahai ahli Quran, laksanakan shalat witir. Sesungguhnya Allah itu witir (ganjil) dan mencintai witir.” (HR. Abu Dawud no.1416).

• Istinja:
وَمَنْ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ

“Barangsiapa cebok dengan batu hendaklah dengan bilangan ganjil.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

• Konsumsi kurma ajwa:
مَنْ تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضرَّهُ فِي ذَلِكَ اليَوْمِ سُمٌّ وَلا سِحْرٌ

“Siapa yang setiap hari sarapan kurma ajwah 7 butir, maka di racun maupun sihir tidak akan memberikan pengaruh baginya di hari itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mudah-mudahan bermanfaat bagi saya maupun para pembaca sekalian.


Wallahu a’lam bishowwab.

السَّيِّدُ (Maha Memimpin)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

☆Kepemimpinan adalah satu bagian kehidupan. Sekelompok makhluk yang tinggal bersama, entah itu hewan, manhsia, atau jin pasti memiliki dan membutuhkan pemimpin.

Seorang pemimpin dipilih berdasarkan kecakapannya dalam mengatur, kemampuan mempengaruhi orang lain, kekayaan, kekuatan, kecerdasan, kekuatan, atau garis keturunan. Dan biasanya para pahlawan merupakan pemimpin yang memiliki beberapa karakteristik di atas.

Tiap orang memiliki opini tentang manusia yang ideal untuk dijadikan pemimpin; akan tetapi manusia tidaklah sempurna. Pemimpin terbaik pasti memiliki kekurangan sementara pemimpin yang buruk tetap memiliki jasa. Demikianlah karakteristik pemimpin dari kalangan makhluk.

Beda halnya dengan pemimpin dari kalangan jin dan manusia yang kekuasaannya bersifat relatif; Pemimpin jagat semesta tidaklah memiliki kekurangan. Kekuatan-Nya absolut dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dan sudah pasti Pemimpin jagat semesta bersifay abadi dan hanya ada satu; Ia lah As Sayyid Allah subhana wa ta’ala.

☆Nama yang satu ini tidak ditemukan di dalam ayat-ayat Al Qur’an melainkan di sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, abu Dawud dan lainnya. Di dalam hadits disebutkan:

عَنْ مُطَرِّفٍ قَالَ قَالَ أَبِي انْطَلَقْتُ فِي وَفْدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا أَنْتَ سَيِّدُنَا فَقَالَ السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قُلْنَا وَأَفْضَلُنَا فَضْلًا وَأَعْظَمُنَا طَوْلًا فَقَالَ قُولُوا بِقَوْلِكُمْ أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمْ الشَّيْطَانُ

Dari Mutharrif ia berkata: Bapakku (Abdullah bin Asy Syikhkhir) berkata, “Aku berangkat bersama delegasi Bani Amir menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami berkata, “Engkau adalah sayyiduna (tuan kami),” maka Beliau bersabda, ”As Sayyid adalah Allah Tabaaraka wa Ta’aala,” kemudian kami berkata, “Engkau adalah yang paling utama dan paling besar kebaikannya di antara kami.” Beliau bersabda, “Ucapkanlah semua atau sebagaian kata-kata yang wajar bagi kalian, dan janganlah kalian terseret oleh setan.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang jayyid, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 3594).

☆Lalu apa arti nama As Sayyid?
Imam Ibnul Atsir dalam kitabnya An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar menerangkan As-Sayyid: seluruh kepemimpinan pada hakekatnya hanya milik Alloh dan semua mahkhluk adalah hambanya, walaupun demikian hal ini tidak menafikan bentuk kepemimpinan yang disandarkan dan secara khusus diberikan kepada sebagian manusia, sebab kepemimpinan Alloh tidak seperti kepemimpinan makhluk yang lemah.

Yup, Allah merupakan pemimpin absolut dari seluruh yang ada di alam semesta; alan tetapi dengan kebijaksanaan yang Ia miliki maka munculah pemimpin-pemimpin dari kalangan makhluk karena hal itu (kepemimpinan) memang termasuk fitrah manusia. Maka tidak perlu heran bila ada pemimpin di rumah tangga, pemimpin di kantor, pemimpin di sekolah, dan pemimpin negara.

☆Kita semua adalah pemimpin -minimal- untuk diri kita sendiri dan kelak kita akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kita pimpin (minimal tentang perbuatan kita sendiri); maka bukankah sudah selayaknya bagi kita untuk meneladani rasulullah yang menolak untuk disanjung secara berlebihan sementara Ia adalah manusia dan pemimpin paling mulia? Beliau yang mengatakan,

أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر

“Aku adalah sayyid anak Adam pada hari kiamat maka janganlah berbangga diri.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Menolak untuk diangkat ke derajat yang demikian tinggi karena malu pada Allah; maka apakah kita yang derajatnya amat rendah dibanding beliau lantas melakukan yang sebaliknya?

Mudah-mudahan bermanfaat, wallahu a’lam bishowwab.

(https://www.assunnah-qatar.com/artikel/tauhid/819-nama-dan-sifat-allah-as-sayyid-dan-as-shamad.html)

%d blogger menyukai ini: