اَلْجَمِيْلُ (Maha Indah)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


◇Salah satu fitrah manusia adalah menyukai keindahan hingga mereka pun berupaya keras untuk mendapatkan hal-hal yang mereka pandang indah. Adalah hal yang wajar bila manusia berlomba untuk mendapatkan cinta seorang wanita cantik atau pria tampan. Juga merupakan perbuatan lumrah bila manusia menjadi demikian bernafsu untuk memiliki kendaraan yang keren, rumah yang mewah, atau harta yang berlimpah. Bukankah Allah telah menjelaskan fenomena ini,

, زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَاْلأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَئَابِ
“Dijadikan indah pada
pandangan (manusia) kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran:14)

Maka tak perlu heran dan tak perlu mencela bila mendapati seorang yang kita kenal menyukai sesuatu yang indah. Yang perlu dipertanyakan adalah mereka yang sengaja hidup kumuh dan rusak padahal mereka mampu untuk mendapatkan yang lebih baik.



Definisi Kesombongan
Banyak orang yang salah mengartikan kesombongan. Mereka pikir menyukai sesuatu yang indah dan memilikinya merupakan suatu kesombongan. Sebagai konsekuensi orang-orang ini sering menghujat siapapun yang lebih baik keadaannya. Ironisnya para pencela ini juga berusaha keras untuk mendapatkan apa-apa yang mereka cela. Lalu benarkah menyukai keindahan merupakan kesombongan? silakan simak hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berikut ini

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قاَلَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ: إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga siapa saja yang dalam kalbunya ada (walaupun) seberat semut kecil dari kesombongan.” Maka seseorang mengatakan: ‘Bahwa ada seseorang suka bila baju dan sandalnya bagus.” Nabi menjawab: “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (Shahih, HR. Muslim)



◇Maka ketahuilah bahwa keindahan itu hal yang diizinkan oleh Allah; Yang Maha Indah baik Dzat, perbuatan, maupun apa-apa yang Ia ciptakan.

Sebaliknya, kesombongan adalah menolak kebenaran yang datang dari Allah dan rasul-Nya serta meremehkan orang lain. Dan kesombongan ini bisa menjangkiti siapapun; entah ia berpakaian indah atau lusuh. Entah ia good looking atau buruk rupa. Entah ia kaya atau miskin.

Mudah-mudahan Allah jadikan kita orang-orang yang diberi keindahan akhlak serta fisik sekaligus menjadi mereka yang beruntung di akhirat kelak,

وَلَقَّىٰهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا
“Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.” (QS. Al Insaan: 11)



■Penutup
Tak terasa 2 tahun lebih saya coba mempelajari asmaul husna kemudian merangkumnya ke dalam blog sederhana ini (dulunya website).

Berawal dari sebuah buku kecil yang saya beli di Museum Asmaul Husna Madinah saat menemani para jamaah, saya pun coba mempelajarinya baik dari sumber-sumber lain yang lebih lengkap maupin dari para ustadz yang alim. Tak terasa perjalanan menulis yang dimulai pada 22 Januari 2018 akhirnya berakhir hari ini, Senin 4 Ramadhan 1441 H / 27 April 2020.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi diri saya maupun para pembaca sekalian. Dan semoga Allah memberi kita berbagai nikmat di hari akhir nanti, sebagaimana firman-Nya,

وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُوا۟ جَنَّةً وَحَرِيرًا
“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera,” (QS. Al Insaan: 12)

Terima kasih pada para pembaca yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mengikuti artikel-artikel saya.

Wallahu a’lam bishowwab.

الطيب (Maha Baik)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


□Kita sering mendengar nasihat untuk berbuat baik seperti: jadilah anak yang baik, jadilah suami yang baik, jadilah istri yang baik, makanlah yang baik, bertemanlah dengan orang baik, carilah nafkah dengan cara yang baik, dan lain sebagainya.

Apakah semua itu hanya sekedar klise? Bisa iya bisa enggak; tapi setidaknya seluruh ajakan pada kebaikan itu memiliki nilai tersendiri dalam Islam. Silakan simak hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu anhu berikut ini. Bahwa rasulullah shalallahu alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ، فَقَالَ: {يَٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُواْ مِنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَٱعۡمَلُواْ صَٰلِحًاۖ إِنِّي بِمَا تَعۡمَلُونَ عَلِيمٌ} [المؤمنون: 51] وَقَالَ: { يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ } [البقرة: 172] ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik dan Allah subhanahu wa ta’ala memerintah kaum mukminin dengan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan kepada para rasul.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Wahai para rasul, makanlah dari hal-hal yang baik dan lakukan yang baik, Aku mengetahui apa yang kalian lakukan,’ dan Dia berkata (yang artinya), ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari hal-hal yang baik yang Kami telah rezekikan pada kalian.’

Lalu beliau menyebutkan seseorang yang menempuh perjalanan panjang, kusut, berdebu, membentangkan tangannya ke langit, ‘Ya Rabb! Ya Rabb!’, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi gizi yang haram. Lantas bagaimana mau dikabulkan karena itu?”(Sahih, HR. Muslim)

□Setidaknya hadits tersebut mengingatkan pada kita bahwa segala sesuatu yang diperoleh dari cara yang tidak baik akan berimbas pada kasih sayang Allah. Ia yang rahmatnya demikian luas bahkan dapat mengabaikan mereka yang terbiasa hidup dengan hal-hal yang buruk dan culas.

Sebaliknya, membiasakan diri dengan hal-hal yang baik dan diridhoi oleh Allah akan menyebabkan ketntraman jiwa dan keberkahan dalam urusan dunia. Membiasakan diri dengan hal yang diridhoi Allah juga akan berakibat baik di akhir kehidupan kita in sya Allah, sebagaimana firman-Nya,

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. An Nahl: 32)

□Mudah-mudahan Allqh Ath Thoyyib menjadikan kita terbiasa hidup d3ngan cara yang baik. Makan, minum, berkata, berbuat, serta mencari nafkah dari jalan yang baik lagi halal. Dan semoga di akhirat kelak kita termasuk orang-orang yang disebutkan di dalam surat Az Zumar ayat 73,

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.”

Wallahu a’lam bishowwab.

Maha Malu (حَيِىٌّ)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


●Sifat malu merupakan salah satu fitrah manusia yang muncul dari rasa sungkan, tidak yakin, atau kurang keberanian. Pada satu sisi rasa malu membuat kita berpikir ulang untuk melakukan atau mengatakan sesuatu karena mempertimbangkan berbagai konsekuensinya. Di sisi lain, rasu malunpada tempat yang salah akan menghalangi pelakunya dari keberhasilan.

Rasa Malu Bagi Allah
Sesungguhnya Allah subhana wa ta’ala pun memiliki rasa malu; akan tetapi mali tersebut sama sekali tidak sama dengan apa yang menimpa para makhluk.

Ibnul Qayyim Al Jauziyah menjelaskan bahwa selain berbeda dengan malu yang ada pada manusia; sifat malu Allah senantiasa disertai kemuliaan, kebaikan, dan keagungan hingga Ia subhana wa ta’ala malu bila tidak mengabulkan doa para hamba yang telah mengangkat tangannya. Dan Ia subhana wa ta’ala juga malu untuk menyiksa seorang tua yang telah beruban dalam Islam.

Salman Al Farisi meriwayatkan sebuah hadits dari rasulullah shalallahu alaihi wa sallam, bahwa beliau berkata,

إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا »

“Sesungguhnya Rabb-mu (Allah) Ta’ala adalah maha pemalu lagi maha mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa“HR Abu Dawud (no. 1488), at-Tirmidzi (no. 3556), Ibnu Majah (no. 3865) dan Ibnu Hibban (no. 876).

●Ibnul Qayyim Al Jauziyah menjelaskan bahwa selain berbeda dengan malu yang ada pada manusia; sifat malu Allah senantiasa disertai kemuliaan, kebaikan, dan keagungan hingga Ia subhana wa ta’ala malu bila tidak mengabulkan doa para hamba yang telah mengangkat tangannya. Dan Ia subhana wa ta’ala juga malu untuk menyiksa seorang tua yang telah beruban dalam Islam.

Beberapa hikmah yang dapat diperoleh dari sifat malu bagi Allah adalah keharusan bagi para hamba-Nya untuk memiliki sifat malu dalam hidup. Tidak melanggar perintah-Nya secara sengaja, tidak membongkar aib diri sendiri yang telah Allah tutupi, dan tidak mencari-cari aib orang lalu membeberkannya di hadapan umum. Bulankah rasulullah pernah bersabda,

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِي البَدْرِي
رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ” رَوَاهُ البُخَارِي.

“Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’” (HR. Bukhari) [HR. Bukhari, no. 3484, 6120]


●Mudah-mudahan pelajaran tentang nama Allah yang satu ini dapat menjadikan kita orang-oran yang ihsan, yaitu mereka yang

أَنْ تَعْبـــُدَ اللَّهَ كَأَنَّــكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

“Engkau menyembah Allah seakan engkau melihat-Nya, maka bila engkau tak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR Muslim)

Wallahu a’lam bishowwab.

Kitab “Syarhul qashiidatin nuuniyyah” (2/80).

https://muslim.or.id/5776-nama-allah-al-hayyiyu-yang-maha-pemalu.html

الْوَتْرَ (Maha Ganjil)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


■Salah satu prinsip dasar Islam adalah mengakui Allah sebagai satu-satunya pencipta dan pengatur alam semesta sekaligus satu-satunya yang boleh disembah. Konsekuensi dari hal ini adalah dilarangnya berbuat syirik seperti meminta rizki atau perlindungan pada berhala, dukun, atau kuburan meskipun pelakunya tetap mengakui Allah sebagai pencipta.

Konsekuensi lain dari tauhid juga muncul dalam keyakinan bahwa Allah hanya satu. Ia memang memiliki nama-nama mulia yang menunjukkan sifat dan keagungan-Nya, akan tetapi Allah tetaplah satu,

 لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا، مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا لَا يَحْفَظُهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَهُوَ وَتْرٌ يُحِبُّ الْوَتْرَ

“Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu. Tidaklah ada yang menghapalnya kecuali ia akan masuk surga. Dan Ia (Allah) adalah al-Witr dan Ia menyukai yang ganjil” (Diriwayatkan oleh al-Bukhaariy no. 6410)


Makna Al Witr
Abul Abbas Al Qurthubi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud dengan ganjil adalah tauhid (keesaan), sehingga maknanya adalah sesungguhnya Allah Maha Esa dalam Dzat-Nya, kesempurnaan-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya. Dia mencintai tauhid, yakni untuk ditauhidkan dan diyakini keesan-Nya…”


Witir dalam ibadah
Dalam hal keesaan Allah, witir diartikan sebagai satu-satunya. Adapun dalam ibadah, witir diartikan sebagai ganjil hingga akan kita dapati beberapa perbuatan nabi yang dikerjakan dalam bilangan ganjil. Diantaranya adalah:
• Shalat witir:
يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ ، أَوْتِرُوا ، فَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ

“Wahai ahli Quran, laksanakan shalat witir. Sesungguhnya Allah itu witir (ganjil) dan mencintai witir.” (HR. Abu Dawud no.1416).

• Istinja:
وَمَنْ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ

“Barangsiapa cebok dengan batu hendaklah dengan bilangan ganjil.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

• Konsumsi kurma ajwa:
مَنْ تَصَبَّحَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعَ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضرَّهُ فِي ذَلِكَ اليَوْمِ سُمٌّ وَلا سِحْرٌ

“Siapa yang setiap hari sarapan kurma ajwah 7 butir, maka di racun maupun sihir tidak akan memberikan pengaruh baginya di hari itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Mudah-mudahan bermanfaat bagi saya maupun para pembaca sekalian.


Wallahu a’lam bishowwab.

السَّيِّدُ (Maha Memimpin)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

☆Kepemimpinan adalah satu bagian kehidupan. Sekelompok makhluk yang tinggal bersama, entah itu hewan, manhsia, atau jin pasti memiliki dan membutuhkan pemimpin.

Seorang pemimpin dipilih berdasarkan kecakapannya dalam mengatur, kemampuan mempengaruhi orang lain, kekayaan, kekuatan, kecerdasan, kekuatan, atau garis keturunan. Dan biasanya para pahlawan merupakan pemimpin yang memiliki beberapa karakteristik di atas.

Tiap orang memiliki opini tentang manusia yang ideal untuk dijadikan pemimpin; akan tetapi manusia tidaklah sempurna. Pemimpin terbaik pasti memiliki kekurangan sementara pemimpin yang buruk tetap memiliki jasa. Demikianlah karakteristik pemimpin dari kalangan makhluk.

Beda halnya dengan pemimpin dari kalangan jin dan manusia yang kekuasaannya bersifat relatif; Pemimpin jagat semesta tidaklah memiliki kekurangan. Kekuatan-Nya absolut dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Dan sudah pasti Pemimpin jagat semesta bersifay abadi dan hanya ada satu; Ia lah As Sayyid Allah subhana wa ta’ala.

☆Nama yang satu ini tidak ditemukan di dalam ayat-ayat Al Qur’an melainkan di sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, abu Dawud dan lainnya. Di dalam hadits disebutkan:

عَنْ مُطَرِّفٍ قَالَ قَالَ أَبِي انْطَلَقْتُ فِي وَفْدِ بَنِي عَامِرٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْنَا أَنْتَ سَيِّدُنَا فَقَالَ السَّيِّدُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قُلْنَا وَأَفْضَلُنَا فَضْلًا وَأَعْظَمُنَا طَوْلًا فَقَالَ قُولُوا بِقَوْلِكُمْ أَوْ بَعْضِ قَوْلِكُمْ وَلَا يَسْتَجْرِيَنَّكُمْ الشَّيْطَانُ

Dari Mutharrif ia berkata: Bapakku (Abdullah bin Asy Syikhkhir) berkata, “Aku berangkat bersama delegasi Bani Amir menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kami berkata, “Engkau adalah sayyiduna (tuan kami),” maka Beliau bersabda, ”As Sayyid adalah Allah Tabaaraka wa Ta’aala,” kemudian kami berkata, “Engkau adalah yang paling utama dan paling besar kebaikannya di antara kami.” Beliau bersabda, “Ucapkanlah semua atau sebagaian kata-kata yang wajar bagi kalian, dan janganlah kalian terseret oleh setan.” (HR. Abu Dawud dengan sanad yang jayyid, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 3594).

☆Lalu apa arti nama As Sayyid?
Imam Ibnul Atsir dalam kitabnya An-Nihayah fi Gharibil Hadits wal Atsar menerangkan As-Sayyid: seluruh kepemimpinan pada hakekatnya hanya milik Alloh dan semua mahkhluk adalah hambanya, walaupun demikian hal ini tidak menafikan bentuk kepemimpinan yang disandarkan dan secara khusus diberikan kepada sebagian manusia, sebab kepemimpinan Alloh tidak seperti kepemimpinan makhluk yang lemah.

Yup, Allah merupakan pemimpin absolut dari seluruh yang ada di alam semesta; alan tetapi dengan kebijaksanaan yang Ia miliki maka munculah pemimpin-pemimpin dari kalangan makhluk karena hal itu (kepemimpinan) memang termasuk fitrah manusia. Maka tidak perlu heran bila ada pemimpin di rumah tangga, pemimpin di kantor, pemimpin di sekolah, dan pemimpin negara.

☆Kita semua adalah pemimpin -minimal- untuk diri kita sendiri dan kelak kita akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang kita pimpin (minimal tentang perbuatan kita sendiri); maka bukankah sudah selayaknya bagi kita untuk meneladani rasulullah yang menolak untuk disanjung secara berlebihan sementara Ia adalah manusia dan pemimpin paling mulia? Beliau yang mengatakan,

أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر

“Aku adalah sayyid anak Adam pada hari kiamat maka janganlah berbangga diri.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Menolak untuk diangkat ke derajat yang demikian tinggi karena malu pada Allah; maka apakah kita yang derajatnya amat rendah dibanding beliau lantas melakukan yang sebaliknya?

Mudah-mudahan bermanfaat, wallahu a’lam bishowwab.

(https://www.assunnah-qatar.com/artikel/tauhid/819-nama-dan-sifat-allah-as-sayyid-dan-as-shamad.html)

الشَّافِى (Maha Menyembuhkan)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


Kesembuhan adalah satu bagian dari kerinduan, terutama di masa pandemi yang tengah kita rasakan. Kesembuhan untuk fisik, untuk jiwa yang sedih, serta kesembuhan untuk dunia. Maka tidaklah heran bila jutaan makhluk tiada henti memohon kesembuhan pada Allah, karena mereka, dan karena kita yakin bahwa Ia Maha Menyembuhkan. Tiada yang mustahil bagi-Nya dan kita harus ingat pesan rasulullah,

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (Shahih Al Bukhari no.5354).

☆Kesembuhan bisa diperoleh dengan cara berobat dan hal tersebut merupakan bagian dari ikhtiar. Rasulullah bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ فَإِذَا أُصِيبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرِئَ بِإِذْنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Setiap penyakit memiliki obat. Bila cocok obat dengan penyakitnya maka akan sembuh dengan izin Allah Ta’ala.” (Shahih Muslim no. 2204)

☆Berobat juga bisa dilakukan dengan cara cara berdoa, sebagaimana yang dikabarkan oleh Ummul Mukminin tentang rasulullah memohon perlindungan untuk beberapa istrinya. Beliau mengusap mereka dengan tangan kanan seraya berdoa,

« اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ أَذْهِبِ الْبَاسَ ، اشْفِهِ وَأَنْتَ الشَّافِى ، لاَ شِفَاءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا »

“Ya Allah Rabb (pencipta dan pelindung) semua manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah, Engkau adalah asy-Syaafi (Yang Maha Penyembuh), tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan (dari)-Mu, kesembukan yang tidak meninggalkan penyakit (lain)” (Shahih Al Bukhari no. 5531, Shahih Muslim no. 2191)

Sebesar apapun penyakit yang kita hadapi, baik fisik maupun psikis maka jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Apabila hari ini doa kita belum terkabul maka mungkin esok atau di lain waktu. Bersabarlah dan semoga Allah menjaga agama, dunia, dan akhirat kita.

Wallahu a’lam bishowwab.

الديان (Maha Memberi Balasan)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


Setiap mukmin pasti meyakini adanya hari akhir dan berbagai peristiwa yang menyertainya; karena hari akhir merupakan salah satu rukun iman.

Dahsyatnya hari akhir telah dikabarkan di dalam banyak ayat seperti Al Anbiya 47, Al Fajr 22-24 atau di seluruh ayat surat Az Zalzalah.

Hadits-hadit juga banyak yang bercerita tentang keadaan di hari kiamat, dan dalam satu hadits tersebut terdapat keterangan bahwa Allah menggunakan nama Ad Dayyan untuk menyebut diri-Nya,

“Muhammad bin Aqil berkata bahwasanya dia mendengar Jabir bin Abdillah berkata: “Sampai kepadaku hadits dari seseorang yang didengarnya dari Rasululloh sholallohu’alaihi wasallam. Maka aku membeli seekor unta, kemudian aku kencangkan bekal perjalananku di atasnya, kemudian aku mengadakan perjalanan selama sebulan menuju tempat tinggalnya, hingga aku tiba di Syam. Tiba-tiba aku sudah tiba di rumah Abdullah bin Unais. Maka aku berkata pada penjaga pintu: katakan padanya bahwasanya Jabir ada di depan pintu. Unais bertanya: Anak dari Abdulloh? Aku menjawab: Iya. Maka beliau keluar sampai menginjak bajunya sendiri (karena tergesa-gesa), dan beliau memelukku. Maka aku berkata pada beliau: Sampai kepadaku hadits darimu bahwasanya engkau mendengarnya dari Rasululloh shollallohu’alaihi wasallam tentang qishosh (pembalas yang setimpal), maka aku khawatir engkau mati atau aku yang mati sebelum aku mendengarnya. Beliau berkata:

سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ” يحشر الناس يوم القيامة – أو قال: العباد – عراة غرلا بهما ” قال: قلنا: وما بهما؟ قال: ” ليس معهم شيء، ثم يناديهم بصوت يسمعه من بعد كما يسمعه من قرب: أنا الملك، أنا الديان، ولا ينبغي لأحد من أهل النار، أن يدخل النار، وله عند أحد من أهل الجنة حق، حتى أقصه منه، ولا ينبغي لأحد من أهل الجنة أن يدخل الجنة، ولأحد من أهل النار عنده حق، حتى أقصه منه، حتى اللطمة ” قال: قلنا: كيف وإنا إنما نأتي الله عز وجل عراة غرلا بهما؟ قال: ” بالحسنات والسيئات

Aku mendengar Rasulullah shollallohu’alaihi wasallam bersabda: “Manusia akan digiring pada Hari kiamat –atau bersabda: Hari Kembali- dalam keadaan ‘uroh (telanjang baju), ghurl (tidak bersunat) dan buhm (tidak membawa apa-apa).” Kami bertanya: “Apa itu buhm?” Beliau menjawab: “tidak membawa apa-apa.” Lalu Allah menyeru mereka dengan suara yang didengar oleh orang yang jauh jaraknya sebagaimana didengar oleh orang yang dekat: “Aku adalah Al Malik, Aku adalah Ad Dayyan. Dan tidak boleh ada seorangpun dari penduduk Neraka masuk ke dalam Neraka dalam kondisi dia punya hak terhadap seorang dari penduduk Jannah, sampai Aku membalaskan untuknya. Dan tidak boleh ada seorangpun dari penduduk Jannah masuk ke dalam Jannah dalam kondisi seseorang dari penduduk Neraka punya hak terhadap dirinya, sampai Aku membalaskan untuknya, sampai bahkan berupa tamparan.” Kami bertanya: “Bagaimana sementara kita mendatangi Allah ‘Azza Wajalla dalam kondisi ‘uroh (telanjang baju), ghurl (tidak bersunat) dan buhm (tidak membawa apa-apa)?” Beliau menjawab: “Dengan kebaikan dan kejelekan.(HR. Ahmad, juz 3 hal. 495, Al Bukhari di kitab Al Adabul Mufrad no. 970, Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no. 514, Al Hakim juz 2 hal. 437, dan lain-lain dari jalan Al Qasim bin Abdul Wahid Al Makki, dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil)

■Lalu apa itu Ad Dayyan?
Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr menjelaskan bahwa nama tersebut berarti Yang Maha Memberi Balasan lagi Maha Menghisab. Allah akan mengumpulkan generasi pertama hingga generasi terakhir dalam keadaan telanjang, tidak dikhitan, dan tak membawa apapun. Ia kemudian menghisab tiap amalan mereka serta memberi balasan yang setimpal.

Mudah-mudahan Allah menjadikan kita hamba yang Ia hisab dengan ringan dan Ia masukan ke dalam jannatul firdaus.

Wallahu a’lam bishowwab.

آل سيتر (Maha Menutupi)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


Rahasia merupakan hal yang tak ingin diketahui banyak orang, apalagi bila rahasia itu berkaitan dengan hal yang buruk. Menjaga rahasia pun tidak mudah, karena manusia memiliki keinginan untuk berbagi.

Masalah semakin besar apabila rahasia tersebut berkaitan dengan keburukan orang lain…yang kita tidak suka pula.

Membicarakan kejelekan orang memang manis dan dianggap hal yang wajar. Akan tetapi coba renungi hadits dari Abu Barzah Al Aslami radhiyallahu anhu berikut ini sebelum kita mengumbar keburukan orang lain. Rasulullah bersabda,

يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ اْلإِيْمَانُ قَلْبَهُ، لاَ تَغْتاَبوُا الـْمُسْلِمِيْنَ، وَلاَ تَتَّبِـعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنِ اتَّبَعَ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَوْرَاتِهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ

“Wahai sekalian orang yang beriman dengan lisannya dan iman itu belum masuk ke dalam hatinya. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan jangan mencari-cari/mengintai aurat mereka. Karena orang yang suka mencari-cari aurat kaum muslimin, Allah akan mencari-cari auratnya. Dan siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah, niscaya Allah akan membongkarnya di dalam rumahnya (walaupun ia tersembunyi dari manusia).”(HR. Ahmad dan Abu Dawud) 

Tentu kita tak ingin Allah tampakkan segala kekurangan kita. Maka simpan baik-baiklah aib kita maupun aib saudara kita. Lebih baik bagi kita untuk memperbanyak istighfar karena boleh jadi kekurangan kita lebih banyak. Dan bila kita menginginkan kebaikan untuk saudara kita yang bersalah maka pilihlah cara menasihati yang bijak dan tak membuat malu. Tidak perlu ada yang tahi kecuali Allah. Dan apapun hasilnya tak perlulah kita umbar. Karena kita harus ingat bahwa Allah,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَيِىٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ

“Sesungguhnya Allah ‘‘Azza wa Jalla Maha Pemalu lagi Maha as-Sittir (Menutupi) Dia mencintai (sifat) malu dan menutup (aib/aurat). (HR. Abu Dawud)

Wallahu a’lam bishowwab.

المحسن (Maha Berbuat Baik)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم

Seorang mukmin pasti meyakini bahwa Allah Maha Baik dan Ia senantiasa memberikan kebaikan melalui berbagai cara.

◇Diantara kebaikan-Nya adalah Ia menciptakan segala sesuatu dalam bentuk sebaik-baiknya. Sebagai contoh Ia menciptakan manusia lengkap dengan berbagai indera dan organ tubuh yang masing-masing memiliki fungsi tersendiri,

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الإنْسَانِ مِنْ طِينٍ
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.” (QS. As Sajdah: 7)

◇Ia juga memerintahkan para hamba untuk berbuat baik pada sesama,

وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
“Berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al Baqarah: 195)

◇Tak hanya pada manusia, perbuatan baik pun diwajibkan kepada makhluk lain seperti tumbuhan maupun hewan, termasuk kepada binatang sembelihan,

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟْﺈِﺣْﺴَﺎﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓَﺈِﺫَﺍ ﻗَﺘَﻠْﺘُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺍﻟْﻘِﺘْﻠَﺔَ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺫَﺑَﺤْﺘُﻢْ ﻓَﺄَﺣْﺴِﻨُﻮﺍ ﺍﻟﺬَّﺑْﺢَ ﻭَﻟْﻴُﺤِﺪَّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺷَﻔْﺮَﺗَﻪُ ﻓَﻠْﻴُﺮِﺡْ ﺫَﺑِﻴﺤَﺖَ
“Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh (dalam qishah,-pent) maka berbuat ihsanlah dalam cara membunuh dan jika kalian menyembelih maka berbuat ihsanlah dalam cara menyembelih, dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan parangnya dan menyenangkan sembelihannya.” (HR. Muslim)

◇Kebaikan lain nampak pada motivasi yang Ia berikan pada tiap mukmin yang berbuat baik; dimana terdapat balasan bagi mereka di dunia maupun akhirat,

هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar Rahman: 60)

◇Dan balasan apa yang paling agung bagi mukmin yang ikhlas dan i’tiba dalam melakukan kebaikan?

لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ ٱلْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Yunus: 26)

Demikianlah beberapa contoh kebaikan yang Allah berikan pada para hamba; nikmat-nikmat yang bila coba kita hitung maka tak ada satupun yang sanggup melakukannya.

●Satu hal yang unik dari nama Al Muhsin adalah tidak ditemukannya kata itu baik pada ayat-ayat Qur’an maupun hadits. Lalu dari mana kita mendapat nama Al Muhsin?

Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al Badr menjelaskan dalam Fikih Asma’ul Husna bahwa nama-nama tadi tidak datang dalam bentuk isim (nama asli) akan tetapi muncul dalam bentuk fiil (kata kerja).

Maka kata kerja seperti ahsana (berbuat baik) diubah menjadi bentuk fa’il atau pelaku hingga tercipta kata Muhsin atau Yang Berbuat Baik.

Wallahu a’lam bishowwab.

Gambar: https://www.lonelyplanet.com/new-zealand

الْجُوْدَ (Maha Dermawan) الْمُعْطِى (Maha Member

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم


Kedermawanan identik dengan pemberian. Pada sosok yang dermawan terdapat kebaikan, kekuatan, serta kehormatan. Manusia dermawan akan dikenang berkat kebaikannya dalam memberi. Dan pada manusia dermawan tidak ada sifat bakhil.

Lalu bagaimana bila yang dermawan itu Allah subhana wa ta’ala, Sang Pemilik langit, bumi, serta segala isinya? Ia Maha Kaya lagi Maha Penyayang. Ia Maha Dermawan dan Maha Memberi,

إِنَّ اللهَ جَوَّادٌ يُحِبُّ الْجُوْدَ وَيُحِبُّ مَعَالِيَ اْلأَخْلاَقِ وَيَكْرَهُ سَفْسَافَهَا

“Sesungguhnya Allah itu Jawwad (Maha Dermawan) mencintai kedermawanan dan mencintai akhlak yang luhur, serta membenci akhlak yang rendah.” (Shahih, HR. Al-Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman dan Asy-Syasyi dalam Musnad-nya, 1/80, Abu Nu’aim dari Ibnu Abbas c dalam Hilyatul Auliya. Asy-Asyaikh Al-Albani t menshahihkannya dalam Shahihul Jami’ Ash-Shaghir no. 1744)

●Kedermawanannya tidak hanya nampak dalam hal-hal duniawi akan tetapi juga dalam bentuk hidayah. Ia memberi petunjuk pada siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang Ia kehendaki,


عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ مُعَاوِيَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ ، وَاللَّهُ الْمُعْطِى وَأَنَا الْقَاسِمُ ، وَلاَ تَزَالُ هَذِهِ الأُمَّةُ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِىَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ (رواه البخارى)

“Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan niscaya akan diberikan pemahaman dalam agama. Dan Allah Al-Mu’thi (Maha Pemberi), sedangkam aku hanya membagi. Dan umat ini senantiasa akan menang dari orang-orang yang menyelisihinya hingga datang perkara dari Allah sementara mereka dalam kedaan menang.” (Shahih. Al Bukhari no.3116)

●Dalam sebuah hadits qudsi dijelaskan betapa kayanya Allah dan betapa mudah bagi-Nya untuk memberi pada seluruh makhluk,

وَلَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَحَيَّكُمْ وَمَيِّتَكُمْ وَرَطْبَكُمْ وَيَابِسَكُمُ اجْتَمَعُوا فِي صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْكُمْ مَا بَلَغَتْ أُمْنِيَّتُهُ فَأَعْطَيْتُ كُلَّ سَائِلٍ مِنْكُمْ ما سَأَلَ ما نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِي إِلاَّ كَمَا لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ مَرَّ بِالْبَحْرِ فَغَمَسَ فِيْهِ إِبْرَهُ ثُمَّ رَفَعَهَا إِلَيْهِ، ذَلِكَ بِأَنِّيْ جَوَّادٌ مَاجِدٌ أَفْعَلُ ما أُرِيدُ، عَطَائِي كَلَامٌ وَعَذَابِي كَلَامٌ، إِنَّمَا أَمْرِي لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْتُهُ أَنْ أَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ


“Dan seandainya yang pertama di antara kalian (hamba-hamba-Ku) hingga yang akhir di antara kalian yang hidup dan yang mati di antara kalian, yang basah maupun yang kering di antara kalian, berkumpul dalam satu hamparan. Lantas setiap orang di antara kalian meminta sesuatu hingga akhir yang dia angan-angankan, lalu Aku beri semuanya apa yang dia minta, maka itu tidak akan mengurangi sebagianpun dari kerajaan-Ku kecuali seperti jika seseorang di antara kalian melewati sebuah lautan lalu mencelupkan jarumnya ke dalamnya lalu mengangkatnya lagi. Hal itu karena Aku adalah Jawwad (Maha Dermawan) Maha Mulia. Aku berbuat semauku, pemberian-Ku adalah ucapan (tinggal mengucap) dan azab-Ku adalah ucapan (tinggal mengucap). Sesungguhnya perintah-Ku terhadap sesuatu adalah bila Aku menghendakinya tinggal mengatakan kepadanya: ‘Jadilah’ maka akan terjadi.” (Shahih, HR. At-Tirmidzi dari sahabat Abu Dzar z, Kitab Shifatul Qiyamah bab 48 no. hadits 2495, lihat takhrijnya dalam kitab Al-Mathlabul Asna min Asma`illahil Husna hal. 50 karya Isham Al-Murri)

●Maka marilah kita meminta pada Allah agar diberi kekuatan, kesabaran, dan keselamatan di tengah pandemi covid19 ini; karena tiada yang mustahil bagi-Nya.

Wallahu a’lam bishowwab.

Gambar: https://www.antalyahomes.com/mobile/real-estate-bursa

%d blogger menyukai ini: